Pasca Sanusi-Didik, ke Mana Arah Bandul Politik Partai Lain?

Home / Kopi TIMES / Pasca Sanusi-Didik, ke Mana Arah Bandul Politik Partai Lain?
Pasca Sanusi-Didik, ke Mana Arah Bandul Politik Partai Lain? Dito Arief N. S.AP, M.AP, Peneliti SIGI Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny J.A) (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESTUBAN, KEDIRI – style="margin-left:0cm; margin-right:0cm; text-align:justify">Rabu pagi, 18 Februari 2020, terjawab sudah kasak kusuk yang beredar selama beberapa minggu belakangan, terkait rekomendasi dari PDIP, Partai Pemenang Pemilu 2019 di Kabupaten Malang, yang secara resmi akhirnya mengusung pasangan Incumbent Drs. H.M Sanusi, MM dengan Ketua DPRD Kabupaten Malang Drs. H. Didik Gatot Subroto, SH, MH, melalui Surat Keputusan DPP PDIP tahap pertama bersama dengan 49 daerah lain terkait Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang direkomendasikan DPP PDIP untuk diusung dalam Pilkada serentak edisi keempat di tahun 2020. 

Bagi pegiat politik dan sebagian masyarakat Kabupaten Malang yang melek Pilkada, keluarnya nama paket pasangan tersebut bukanlah sebuah kejutan, mengingat dalam beberapa waktu belakangan sudah santer kabar duet tersebut terdengar melalui sinyal-sinyal yang disampaikan oleh sejumlah petinggi DPP PDIP bahkan oleh salah satu Wakil Menteri yang sempat berkunjung ke Malang beberapa waktu yang lalu. 

 Turunnya rekom untuk Sanusi – Didik Gatot sempat menguatkan dugaan Koalisi BangJo (PKB-PDIP) telah benar-benar terbangun, apalagi status kedua Partai sebagai dua besar pemenang Pemilu dengan masing-masing memiliki 12 kursi di DPRD Kabupaten Malang. Namun tak disangka, kejutan yang sebenarnya barulah muncul di sore hari dengan rilis yang disampaikan Bupati Sanusi melalui sejumlah media, tentang kronologis turunnya rekomendasi dari PDIP, termasuk fakta bahwa beliau telah mengambil keputusan untuk keluar dari PKB dan saat ini telah menjadi bagian dari PDIP, sebagai Kader yang setia lahir batin berkomitmen untuk membesarkan PDIP.   

Tentunya banyak analisa dan pertanyaan mengapa PDIP akhirnya merekom dua nama tersebut untuk Pilkada Kabupaten Malang, bahkan dengan segera mengumumkan nya di Rekomendasi Cakada DPP PDIP Tahap Pertama,  bersama rombongan Jawa Timur lainnya yaitu Kabupaten Ngawi, Lamongan dan Sumenep. Membaca timing-nya, artinya PDIP sangat percaya diri dengan mengusung pasangan ini, ditengah adem ayem-nya dinamika Politik Kabupaten Malang, satu bandul politik telah berayun tegas mengusung Incumbent mantan Kader PKB bersama dengan Ketua DPC PDIP yang terpaksa harus merelakan posisinya sebagai Ketua DPRD. Belum adanya figur yang kuat secara popularitas dan elektoral dari daftar nama yang telah mendaftar di PDIP sejauh ini bisa menjadi pilihan logis yang diambil oleh PDIP, termasuk mengesampingkan Srikandi terbaiknya Doktor Sri Untari yang sempat digadang-gadang jauh hari sebelumnya. 

Analisa logis lain adalah bahwa periodeisasi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah pemenang Pilkada 2020 ini tidak akan lebih dari 4 tahun bilamana tidak ada revisi atas Undang – Undang No.10 Tahun 2016 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota yang menjadwalkan Pilkada berikutnya se-Indonesia akan dilangsungkan serentak pada tahun 2024 mendatang. Sehingga dalam analisa penulis, bisa jadi PDIP tidak ingin terburu-buru menjadikan kader asli terbaiknya hanya untuk 3-4 tahun menjadi Bupati di 2020 dan lebih menunggu momentum 2024 untuk mengambil posisi N1 sambil berharap Sanusi tetap menjadi Sanusi,  persis seperti desain politik yang dibuat oleh mantan Bupati Rendra Kresna 5 tahun silam ketika menggandengnya. 

Saat ini ketika satu bandul sudah bergerak pasti, maka bandul politik yang lain yaitu PKB, akan menarik ditunggu  ayunan yang akan dilakukan. Apa yang telah disampaikan Bupati Sanusi melalui Rilisnya beberapa jam setelah resmi mendapatkan rekom dari PDIP, tidak hanya menyentak PKB sebagai mantan Parpol yang menaunginya, namun juga bagi Parpol lain sebagai Organisasi Kader dan Organisasi Politik. Alih-alih merendah untuk bisa mendapatkan dukungan dari Parpol lainnya termasuk PKB, apa yang disampaikan Bupati Incumbent tersebut memperlihatkan euforia over confident beliau bersama Partai barunya, yang secara politik bisa menjadi momentum untuk menjadikan incumbent sebagai musuh bersama dalam Pilkada kali ini.  Jangan dilupakan juga, kekuatan Bandul Politik yang lain yaitu Poros mantan Bupati Rendra Kresna, selain Nasdem dengan 7 Kursinya, Bandul Politik Rendra Kresna berpotensi menjadi kekuatan alternatif dengan jaringan dan pengaruhnya di Kabupaten Malang.  Bahkan penulis meyakini kekuatan tersebut sanggup untuk menarik bandul PKB sekalipun. Pertanyaannya, siapakah figur yang mampu merekatkan nuansa kebatinan yang dirasakan oleh bandul politik dan Parpol pemilik kursi yang tersisa, ataukah terpaksa harus bertekuk lutut untuk bergabung bersama dengan incumbent usungan PDIP tersebut??

Kabupaten Malang dengan DPT yang mencapai hampir 2 Juta pemilih, yang telah dan akan memiliki infrastruktur strategis seperti Bandara International, Pelabuhan, kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, infrastruktur Jalan Tol dan Jalur Lintas Selatan, serta memiliki potensi ekonomi dari pariwisata dan kekayaan alamnya tentu sangat strategis dan menjadi perhatian tidak hanya bagi Partai Politik, namun juga bagi stakeholder kepentingan nasional maupun kelompok-kelompok bisnis yang berkepentingan terhadap Kabupaten Malang di masa yang akan datang.  Dengan potensi luar biasa tersebut,  siapa dan seperti apa profile pemimpin Kabupaten Malang ke depan tentu “perlu” sevisi dengan kepentingan-kepentingan tersebut. 
Tujuh bulan menjelang hari Pilkada Kabupaten Malang 2020, menurut penulis, sesungguhnya tidak ada yang benar-benar dominan secara elektoral, bahkan bagi incumbent sekalipun. Maka gurauan saya, akan sangat menarik bila ada sosok seperti Artis Ashanty atau Abah Anton yang secara figur memiliki efek WOW yang dapat menjadi Ice Breaker sekaligus menyatukan kepentingan Parpol tersisa untuk mengambil kesempatan memenangkan Pilkada di tanggal 23 September 2020 mendatang. (*)

 

*)Penulis Adalah Dito Arief N. S.AP, M.AP, Peneliti SIGI Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny J.A)

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com