Kiat Menjadikan Melek Digital

Home / Kopi TIMES / Kiat Menjadikan Melek Digital
Kiat Menjadikan Melek Digital Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat, Dewan Pakar Psycho Education Centre (PEC). (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESTUBAN, JAKARTA”Digital Literacies is not just for students and educators. We all live and work in digital network” - dr Kellypage

Di awal abad ke-21 ini melek digital merupakan suatu topik yang paling hangat. Dengan demikian melek digital sangatlah penting bagi siswa untuk menguasainya. Belum lagi seiring dengan kehadiran Covid-19, untuk pencegahan penyebaran, yang menjadikan Social and Physical Distancing melek digital sangatlah diperlukan. Dengan jujur bahwa belum semua siswa atau mahasiswa melek digital. Karena itu guru atau instruktur perlu tahu bagaimana membantu siswa atau mahasiswa untuk melek digital secara efektif, sehingga bisa meningkatkan komunikasi modern.

Apa itu melek digital, The American Library Association (ALA) defines “digital literacy as “the ability to use information and communication technologies to find, evaluate, create, and communicate information, requiring both cognitive and technical skill” . Di sini jelas bahwa melek digital tidak hanya sebatas keterampilan teknis, yang terkait dengan keterampilan membaca informasi saja, melainkan juga sudah melibatkan aspek kognitif. Bahkan menurut hemat saya bisa juga melibatkan aspek afektif dalam hal tertentu. Karena aktivitas literasi iuga menyinggung persoalan plagiasi. Di balik plagiasi ada aspek moral.

Kita sangat menyadari bahwa persoalan yang dihadapi siswa atau mahasiswa dan guru atau dosen dalam menggunakan teknologi digital untuk pembelajaran masih banyak persoalan. Tidak hanya terkait dengan menyiapkan substansi pembelajarannya, melainkan juga melaksanakan pembelajaran dengan digital dan melakukan evaluasi pembelajarannya yang tidak mudah, sehingga objectivitasnya bisa terjaga. Untuk menjamin efektivitas pelaksanaan pembelajaaran sangat diperlukan cara yang efektif menjadikan melek digital.

Marianne Stenger (2018) menjelaskan beberapa cara menjadikan melek digital. Pertama, menekankan pentingnya berpikir kritis. Di era digital, banyak sekali tersedia informasi yang bisa diakses. Tidak semua informasi itu bisa dijamin kebenaran dan objektivitasnya. Karena itu sangat diperlukan kemampuan kritis untuk bisa memilih informasi yang akurat dan memiliki tingkat kebenaran yang tinggi.

Kedua, menggunakan media sosial untuk belajar dan berkolaborasi. Bahwa para siswa dewasa ini relatif sudah familiar dengan media sosial dan dalam hal-hal tertentu siswa atau mahasiswa lebih terampil daripada guru atau dosennya. Yang penting bukanlah asal menguasai media sosialnya, tetapi bagaimana mereka bisa menggunakan media sosial untuk kepentingan pendidikan. Misalnya Twitter untuk pooling atau riset, Facebook untuk membangun koneksi dan kolaborasi dengan teman-teman sebayanya.

Ketiga, memberikan bimbingan cara menomale atau menghindari plagiasi. Kita sangat menyadari bahwa internet memmberikan kemudahan untuk melakukan plagiasi. Tidak sedikit siswa atau mahasiswa yang belum mengetahui cara menghindari praktek plagiasi. Karena itu siswa atau mahasiswa dilatih untuk membuat sitasi yang benar dengan membuat parafrase, sehingga terhindar dari praktek plagiasi. Ingat bahwa plagiasi adalah perbuatan yang sangat tercela dalam dunia akademik.

Keempat, mengajar siswa atau mahasiswa mengelola identitas online. Kita sangat menyadari bahwa siswa atau mahasiswa yang sudah aktif di media sosial akan meninggalkan jejaknya. Kadang-kadang mereka tidak mau peduli dengan semuanya itu. Namun apapun yang terjadi bahwa setiap individu itu memiliki informasi yang sifatnya privacy. Karena itu akan lebih aman dan bermanfaat untuk masa-masa selanjutnya, jika siswa atau mahasiswa bisa mengelola identitàs online-nya dengan benar. Bahkan upaya ini akan bisa memantapkan melek digital dalam pendidikan.

Kelima, membantu siswa mengelola gangguan digital. Memang sudah terbukti bahwa alat-alat digital dan sumber-sumber online telah menjadikan belajar lebih efektif dalam beberapa hal. Namun tidak dipungkiri juga telah mendatangkan distorsi digital. Yang kita rasakan betul adalah kita merasa menjadi berjarak dan merasakan hidup ini kering. Karena itu sangatlah dimungkinkan bahwa multi tasking perlu dimanfaatkan. Ketika kita sedang suntuk fokus pada tugas tertentu, kita bikin selingan tugas lain, apakah mendengar audio visual yang isinya bacaan Al Qur-an, menikmati nyanyian yang liriknya ada misi tertentu atau sekedar refreshing, atau manfaatkan aplikasi yang menantang dan menyegarkan pikiran.

Keenam, memberikan konteks yang autentik untuk praktek. Bagian penting lainnya untuk mengajar menemukan cara bagi siswa untuk praktek menggunakan teknologi dengan cara yang mencerminkan penggunaannya dalam dunia nyata. Yang dalam prakteknya memberikan kesempatan untuk praktek membangun website-nya sendiri dan aplikasinya atau sibuk melayani diskusi secara online.

Ketujuh, membimbing siswa keluar dari zona nyaman. Semua siswa berada pada zona nyaman ketika mereka masuk ke dunia teknologi. Namun ketika siswa mau berinovasi, maka kita harus kondisikan siswa atau mahasiswa keluar dari zona nyaman. Tentu antara siswa atau mahasiswa satu dan lainnya berbeda, karena keunikannya. Untuk itu perlu sekali mengenali karakteristik, potensi dan kebutuhan siswa atau mahasiswa. Selanjutnya ketika kita ingin mengembangkan kecakapan berkomunikasi, kita dapat mulai mengajar siswa atau mahasiswa dengan kalimat pendek, dengan membuat paragraf yang khas atau hashtag pada twitter. Habis itu pindah ke Instagram, selanjutnya bisa pindah ke blog. Bahkan setelah nyaman bisa bergerak lagi bikin jurnal video atau lainnya.

Di samping tujuh kiat tersebut di atas, untuk bisa menjaga melek digital yang lancar dan total, siswa atau mahasiswa terbiasa secara mandiri membaca panduan untuk tutorial digital, tips dan mengenali peralatan yang terus terjadi upgrading dan updating. Termasuk juga mengenali keterampilan komputer dasar dan lanjut yang terus berubah dan berkembang. Karena itu kita dalam menjaga melek digital perlu terus melakukan updating diri supaya kita selalu upto date. Never ending updating digital skills.

Akhirmya kita sepenuhnya menyadari bahwa penguasaan digital skill sangat diperlukan di era RI 4.0 atau di Era Digital bagi setiap individu, khususnya siswa atau mahasiswa. Memang mereka secara langsung atau tidak langsung telah belajar menggunakan teknologi digital sesuai dengan kondisi masing-masing. Namun kita juga harus mengakui bahwa masih banyak dijumpai mereka belum optimal dalam memanfaatkan teknologi digital untuk berinovasi.

Untuk itu sangat diperlukan tips menjadikan melek digital secara fungsional. Penguasaan digital untuk kepentingan hidup, terutama sesuai dengan statusnya sebagai siswa atau mahasiswa. Semua bisa dilakukan secara mandiri, bisa juga dengan bimbingan para instruktur jika diperlukan. (*)

***

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat, Dewan Pakar Psycho Education Centre (PEC).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah minimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com